Dia dan DIA
Selalu terkenang dimana saat semua terjadi hari itu, dia pergi dengan senyuman yang selalu hadir disaat aku sedih susah duka di sampingnya. Pelukanku tak mau lepas dari tubuhnya, tanganku tak ingin melambaikan lima jari padanya. Sedih yang ku rasa sudah diujung pelupung mataku terasa terungkai jatuh ke pipi, entah karena cinta atau sayang aku padanya hingga sulit untuk menjauhkan diriku dari tatapan cintanya.
Mungkin semua penuh dengan kebohongan, mungkin juga semua penuh dengan yang tidak aku harapkan, tidak seperti apa yang pernah aku genggam dihatiku sebelum mengenalnya, tapi ini yang aku rasa setelah tahu tentang dia, aku mencintainya. Meskipun awalnya rasa itu cukup palsu dihati dia setelah mengenalku, namun seiring bertemu dengan mataku dan matanya cinta itu pun tumbuh dihatinya. Tiap malam mendengar suaranya, membuat tidurku nyenyak dengan penjual mimpi indah seperti dia, membuat aku manjadi nakal ingin lebih mengenal tentang dan seperti apa kehidupannya.
Berjalan waktu, mungkin dia tak kuat menahan semua kebohongan yang ada dalam hidupnya, aku menggenggam hatinya memaksa dia berbohong pada yang lain bahwa ia mulai tulus mencintaiku. Kejujuran itu terungkap langsung dari bibir manisnya, pahit tapi itu kejujuran. Dia telah termiliki, bukan aku ataupun cintaku bahkan tidak dengan hatiku. Dia memiliki DIA, yang telah menjadi seorang pendamping hidup dunia akhirat, DIA yang telah menjadi ibunda dari buah-buah hatinya. Teriakan hati tertahan saat kejujuran itu keluar semua, sakit dan kecewa itu pasti. Tak tertahan, tangis pun keluar dari mataku. Dia jujur untuk kebaikan hubungan aku dengannya, kebaikan hatiku, dan ketenangan dirinya mendampingiku meski sesaat. Ternyata yang ku rasa indah semua hancur menjadi seperti yang tak pernah aku bayangkan, dia berselingkuh denganku.
‘Aku akan meninggalkannya, membiarkan dia sendiri’, itulah pikiran pertamaku yang muncul saat aku tau kejujuran darinya, tapi aku mencintainya, cinta yang ku rasa berbeda, beda dengan apa yang aku punya pada yang lain. Dia menemuiku satelah tragedi hati itu, hatiku yang tekad untuk melepasnya tak mungkin bisa pergi setelah aku mencintainya. Cinta itu lebih kuat bertahan dibanding dengan pikiran aku untuk pergi darinya. Hatiku terluluhkan oleh tatapan matanya. Entah aku yang bodoh atau dia yang picik menduakan yang telah dia miliki sebelum mencintaiku, tapi itu adanya.
Awalnya semua berjalan dengan perasaan datar dihatiku, dia menceritakan semua apa yang dia alami dengan DIA. Rumah tangga yang ia bangun hampir 11 tahun berjalan tanpa cinta yang tulus dari dia, hatinya pernah tersakiti oleh DIA dan itu takkan pernah bisa hilang sampai saat ini. Rasa datar hatiku berubah menjadi kasihan padanya, cinta tulus yang aku punya mungkin sudah berantakan menjadi yang tak pernah ku tau apa bentuknya, namun aku berusaha untuk mengukir itu satu per satu membentuk seperti saat awal aku dan dia. Tapi hatiku takut bila suatu saat DIA tahu apa yang kami lakukan.
Berharap keajaiban datang padaku agar aku bisa pergi darinya, tapi ia memaksa agar aku tidak pergi meninggalkan dirinya dan cintanya. Sulit, dan dilema. Pertentangan dua sisi hati dalam satu perjalanan cinta, antara cinta tapi aku harus iklas meninggalkan dia karena sudah termiliki. Jika aku pergi, aku akan menyesal karena dia semakin terluka dengan yang sudah termiliki. Aku terjatuh kejurang dan tersangkut ranting kecil yang sewaktu-waktu bias patah kapan saja. Ku putuskan untuk menjalaninya saja dengan dia dengan kebohongan. Dia selalu menemuiku dengan berbohong pada DIA jika dia ada kerjaan lembur yang harus terselesaikan. Hancur hatiku saat aku tahu kebohongan itu kepada DIA, mungkin karena aku dan DIA sama-sama wanita yang mempunyai hati dan perasaan.